Selasa, 02 Oktober 2012

setitik kisah : KECUALI PINTU LANGIT SAJA



Salah seorang ulama as-Salaf berkata: “Ada sebagian dosa yang hanya dapat diampuni dengan kesedihan terhadap anak istri..”
Seseorang menceritakan kepadaku untuk meyakinkan hal itu: “Sesungguhnya keluarga adalah penyumpal kenyataan ini, bukan sekedar rajutan khayal, bukan pula sebuah dongeng. Aku adalah seorang ayah. Anakku selalu mencari fokus pembicaraan. Usai bulan Ramadhan, dan seiring dengan kedatangan hari Ied, kuperhatikan bahwa anakku Abdullah yang baru berusia 2 tahun setengah terlihat lemah sekali, dan panas tubuhnya meningkat drastis. Senyumannya sirna, dan kecerahan wajahnya terlihat layu. Ia belum terbilang mahir berjalan, namun kini justru menjadi lemah secara tiba-tiba. Pandangannya kosong dan suaranya terputus-putus, mencari tempat untuk berbaring…
Kami segera mengompres dan memberinya obat penenang sambil berusaha mencari dokter. Tetapi panas tubuhnya kembali meningkat. Tak ada pilihan lain, tidak ada lagi waktu untuk bermusyarah…
Semua rumah sakit segera tergambar dalam benakku. Tetapi kami sekarang dalam liburan, maka kami pun memutuskan untuk mencari dokter jaga. Aku berkata kepada ibunya sambil menggendong anak tersebut: “Jangan khawatir. Anak-anak biasa seperti itu.” Aku terus berbicara untuk menenangkan jiwanya sebelum menutup pintu. “Anak kecil itu mudah sekali terkena penyakit, namun juga mudah sembuh. Tenangkan pikiranmu dan bertawakallah kepada Allah..”
Setelah berjalan tersendat-sendat karena kemacetan, sinar dari luar menyilaukan matamu. Kemudian engkau masuk ke dunia lain, menaiki jenjang-jenjang rumah sakit…
Dunia yang lambat, menyembunyikan segala senyuman. Tidak ada tempat di situ buat kesombongan dan sikap semena-mena. Manusia dalam dunia ini amat lemah, lemah sekali. Ada yang tertunduk kepalanya, ada yang memegangi perutnya dengan kedua tangannya, ada lagi yang mengerang dengan rintihan yang mencegah kesunyian, namun tidak diketahui mana orangnya..
Adapun orang-orang yang terluka dan darah yang mengucur, bisa engkau lihat setiap saat, diawali dengan suara mobil ambulance di luar rumah sakit, tak lama kemudian engkau akan melihat dengan mata kepalamu.
Engkau tidak mengingat bahwa ada yang dinamakan dengan kondisi sehat wal afiat, kecuali bila engkau telah berada di tempat ini.
Di pojok kamar, terdapat orang tua berumur delapan puluh tahunan, seorang yang lanjut usia terlihat sudah kehilangan segala sesuatu!!
Pandangannya kosong, ke kiri dan ke kanan, mencari di mana dokter, mencari obat. Engkau tidak akan merasakan kenikmatan sehat, kecuali bila engkau melihat dan menyaksikan kejadian itu… Bisa jadi engkau akan melihat orang yang tampak sehat, tetapi berjalan lambat dan melompat-lompat seperti hendak menyeberangi lautan di mana orang-orang yang sakit… Kondisi putraku menjadi ringan bagiku, begitu kulihat bahwa rasa sakit itu ternyata memeras kondisi semua orang di situ..
Kami diberi berbagai macam obat. Aku sudah mencium bau kesehatan ketika keluar dari rumah sakit itu..
Pada hari pertama, kesehatannya sudah membaik sedikit. Namun setelah obat habis, panas itu datang lagi. Kami pun kembali ke dokter. Ketika aku menjelaskan kondisi anaakku, terlihat dalam pandangan mataku kegelisahan dan kegoncangan. Dokter itu berusaha menenangkan diriku: “Jangan khawatir.” Lalu dia memberikan kepada kami obat-obatan yang sama seperti sebelumnya..!!
Kami gembira membawa obat tersebut. Namun kondisinya kembali seperti sebelumnya. Berulang-ulang kami berobat ke sana selama lima minggu berturut-turut, namun tidak ada hasilnya. Aku mulai dirundung rasa takut, sementara ibunya lebih takut lagi. Pembicaraan kami tinggal: Anak kita mulai melemah dan berkurang selera makannya. Berjalanpun ia lambat dan merasa sakit di tulang-tulangnya. Ibunya melihat wajahnya pucat sekali…
Dengan kondisi begini ia tidak hanya membutuhkan konsumsi obat dan pemeriksaan segera saja, tetapi harus diopname dan pemeriksaan lengkap. Aku merasa bahwa ada sesuatu, dan pasti ada hari-hari panjang yang menunggu kami. Aku mencium keningnya dan membawanya ke bagian rawat inap. Anakku mulai menerima berbagai jenis suntikan, sementara ia memelas-melas kepadaku. Aku hanya dapat memeganginya dengan kuat dan menyerahkannya untuk menerima suntikan…
Suaranya melengking keras, rintihannya pun terdengar kuat, sementara air matanya mengalir dan berjatuhan di tanganku, dan aku tetap memeganginya..
Air mata itu seolah berbicara kepadaku: “Kebekuan hati macam apa ini wahai ayahku?” Ada sesuatu dalam hatiku yang terbakar, dan dalam dadaku terasa jantungku mencair…
Air matamu wahai anakku, hanyalah sebuah titik di lautan luas. Wahai anakku, aku bukanlah patung dan hatiku bukanlah batu..
Beberapa hari berlalu sementara kami menanti-nanti. Setiap kali dokter menemui kami, kami selalu berusaha mendengar jawaban darinya. Kami menantikan kalimat yang dapat memberi harapan. Lukanya telah diobati. Namun meski banyak sudah pemeriksaan dilakukan, tidak juga membawa hasil!! Satu-satunya jawaban adalah, penyakit dalam darah..
Penurunan kesehatan anakku semakin bertambah, sehingga tidak mampu lagi untuk duduk, apalagi berdiri. Pandangan matanya yang tajam mengejarku terus setiap kali aku menghadap ke arahnya. Ada pertanyaan di kedua belah matanya: “Kapan aku keluar dari sini?”
Sinar harapan akan kesembuhannya mulai mengabur, ketika aku mendengar dokter itu berbicara kepada temannya: “Meskipun tubuhnya lemah sekali, tetapi kita tidak dapat mentransfusi darah kepadanya, karena itu akan mempengaruhi hasil pemeriksaan..
Dalam kondisi demikian, hari-hari berjalan lambat sekali, sementara anakku mulai kehilangan hidupnya… Dokter meminta kepada kami untuk memeriksakan sumsum tulangnya, karena itu ibarat pabrik darah bagi manusia.
Aku pun menyetujuinya tanpa ragu-ragu lagi, sementara hatiku bagaikan diperas menahan sakit, ketika aku melihat kepalanya. Tulang tengkoraknya kecil. Aku merasakan bulatan kepalanya itu dengan tanganku, seolah-olah aku mencari kesembuhan itu sendiri..
Setelah anakku dibius, diambillah sampel sumsum tulangnya. Dokter memintaku untuk memeriksakan ke rumah sakit spesialis. Aku berjalan membawa sampel sumsum itu. Mataku melotot sementara hatiku bergantung kepada Rabb dari langit ini, aku tidak lagi merasakan nikmatnya hidup dan nyamannya tidur…
Aku menyerahkan sampel itu kepada petugas laboratarium yang sudah disertai oleh jenis pemeriksaan yang dibutuhkan. Aku pun gembira. Mudah-mudahan hasil pemeriksaan ini dapat menghilangkan sakit yang dirasakannya.
Pada hari kedua, setelah masa-masa berlalu dengan lambat sementara detak jantungku berlomba dengan detak jarum jam. Aku tidak mampu lagi memikirkan segala sesuatu.
Aku menerima gagang telepon itu. Mudah-mudahan hasilnya sudah didapat. Aku menanti-nanti kesembuhan anakku…
Telingaku kembali lagi dapat mendengar dendang tawanya. Aku juga ingat bagaimana ia berlari untuk menyambut diriku, juga ketika ia duduk di atas punggungku dan juga ciumannya di keningku.
Dalam lantunan kegembiraan, ia menjawab dengan kata-kata yang meresahkan yang telah mencabik-cabik angan-anganku, mencerai-beraikan mimpi-mimpiku, memancarkan darahku di pembuluh darahku dan meninggalkan gemanya berbunyi di telingaku. Hatiku trenyuh dan air mataku pun berderai. Namun aku mengangkat jariku sambil berujar: “Alhamdulillah…”
Dokter berkata: “Penyakit anakmu adalah kanker darah…”
Berjalanlah waktu yang panjang, beku dan penuh kedukaan. Dunia terasa redup di pandangan mataku. Kedua kakiku tak mampu melangkah, seolah-olah jalan dihadapanku adalah jalan buntu, pintu-pintu tertutup, akan tetapi aku teringat masih ada satu pintu yang terbuka: pintu langit…
Aku gembira dengan keteguhan ini..
Alhamdulillah dan terus aku lanjutkan. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Jiwaku menyusul dan bergerak dengan berat. Dalam otakku berputar beberapa pertanyaan yang memiliki permulaan namun tidak pernah berakhir: “Sebentar lagi aku akan berpisah dengan anakku, bagaimana aku mengabarkan ini kepada ibu dan saudara-saudaranya? Bahkan bagaimana aku memandang kepadanya? Apakah dengan pandangan perpisahan? Atau dengan pandangan harapan? Berbagai pertanyaan datang silih berganti dan susul-menyusul mengetuk hatiku. Kemudian datang satu pertanyaan yang membuatku beranjak dari tempatku. Aku melompat dan berlari dengan kuat: “Apakah aku akan berjumpa dengannya di rumah sakit? Atau ia sudah meninggal dunia?”
Berbagai perasaan saling tindah menindih. Berbagai pertanyaan saling mengguntur. Aku membawa kakiku untuk berjalan di lorong-lorong rumah sakit sambil mengumpulkan kekuatan untuk berbicara..
Ibunya ada di sisinya dengan kegembiraan. Kabar gembira? Apa hasilnya?
Jawaban bagi kebingunganku lebih besar dari kebingungannya. Kebutuhanku untuk diam membungkam lebih besar dari kebutuhannya akan jawaban. Kelayuan dan kesuraman membayang di tempat tidur lagi. Aku menanti dengan cemas waktu demi waktu, menit demi menit. Kemudian ia akan diangkut ke Riyadh. Sedetik rasa bertahun-tahun dan semenit rasa berwindu-windu, berlalu dengan lambat dan berat. Akhirnya setelah lelah dan capek, ia pun dipindahkan…
Pada sore hari yang panjang, dan dalam sebuah perbincangan yang panjang pula..
Kesedihan menyelimuti sekeliling kami, rasa sakit seolah menegakkan panjinya di hati kami. Besok hari Raya Iedul Adha…
Satu waktu antara dua hari Raya Ied, seolah terdapat satu Ied lagi, yang dalam kondisi bagaimanapun engkau pasti datang, wahai Ied.
Bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah. Apapun yang ditakdirkan oleh Allah pasti akan terjadi. Aku mengusap kesedihan dari hatiku dan berdoa kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa doaku akan dikabulkan..
Pada hari kedua setelah Ied…
Terdengar teriakan anak-anak kecil yang mengusik telingaku, juga suara bercakap-cakap memperingatkan kegembiraan hati, ditambah ucapan selamat dari setiap lisan kaum muslimin…
Masalah yang dialami oleh Abdullah anakku berbeda. Ia justru meringkuk di tempat tidur menahan sakit. Aku memandanginya ketika ia sedang berbaring di atas kasurnya, berbolak-balik, tidak dapat bergerak bebas. Ia membuka kedua matanya dengan susah untuk menyakinkan bahwa aku ada di situ. Pandangan yang sulit dimengerti maksudnya. Aku mengusap air mata yang mengalir dari mataku karena melihatnya. Kondisi dan rasa sakit yang kualami bercerita:
Ketabahan enggan menerima segala tanda-tanda musibah yang kusaksikan
Aku melihat segala tali selain tali-Mu ya Allah pasti terputus
Setiap kali aku berdoa dengan menyebut nama-Mu tidak juga Engkau kabulkan
Padahal aku pantas untuk Engkau lihat dan Engkau dengarkan
Pada hari ini pengobatan secara kimiawi dilakukan terhadap anakku. Tahukah pembaca apa yang dimaksudkan dengan pengobatan kimiawi?
Yakni suntikan bercampur gizi makanan yang dimasukkan melalui darah untuk menghancurkan sel-sel busuk dan diganti dengan sel-sel bagus. Pengobatan itu membutuhkan waktu lama dan intensif selama tiga tahun..
Selama tiga bulan anakku dibius total untuk bergulat dengan penyakit dan agar tidak merasakan rasa sakit obat kimia itu selama tiga pekan. Akhirnya ada perkembangan baik sedikit. Ia mulai dapat berjalan dengan lambat dan gemetar. Dokter menyatakan kepada kami bahwa ada harapan ia akan diobati di kota kami itu. Dia melihat kesulitan yang kualami selama tinggal sendirian dengan anakku, sementara ibu dan saudara-saudaranya di sana.
Aku segera membawa anakku meninggalkan rumah sakit. Rasa duka dan kegundahan menggiring diriku. Seorang anak yang sedang bergulat dengan maut, dan di sana seorang ibu yang sedang bergulat dengan kesedihan, di sini seorang ayah sedang bergulat dengan hidupnya. Ada satu pertanyaan di mata anakku: “Kemana lagi engkau akan membawaku wahai ayahku? Tidakkah engkau lelah menggotongku? Kita hendak pergi ke rumah sakit lain, atau ke rumah kita saja? Aku ingin melihat ibuku…”
Kami tinggal sebentar saja, lalu kami terpaksa kembali lagi setelah dua bulan. Satu minggu setelah kami tinggal di rumah sakit, kami melakukan pemeriksaan lagi..
Kegembiraan masih memberi tempat, dan kebahagiaan mengelilingi kami. Akan tetapi datang hal yang mengejutkan kami… Penyakit anakku kembali kambuh, fase yang menyebabkan datangnya kekhawatiran.
Aku terserang goncangan yang memeras perasaan. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku harus berbuat? Sel-sel kanker itu kembali aktif. Harus diadakan pengobatan ulang dari awal lagi. Harus diulang lagi program pengobatan itu dari awal, dengan lebih intensif lagi..
Dokter itupun terpengaruh ketika membaca hasil pemeriksaan. Kemudian ia berkata seolah-olah meneriakkan rasa sakit anakku: “Kalau anda mau, biar pengobatan itu kita mulai lagi dari awal di sini, atau kembali ke Jeddah.” “Lebik baik kembali ke Jeddah saja,” jawabku.
Aku memegangi hasil pemeriksaan anakku itu dan membawa anakku ke luar rumah sakit tersebut. Suara dokter menyusulku dengan cepat: “Jangan lupa segera memberi pengobatan dan jangan melalaikannya. Kondisi anak itu mengkhawatirkan.”
Aku mengetuk pintu rumah sakit-rumah sakit…
Anakku harus menanggung suntikan yang tidak biasa diterima oleh orang besar sekalipun. Tak ada lokasi baru pada tubuhnya yang belum tersentuh jarum suntik. Dokter sendiri sampai bingung di mana lagi ia harus menusukkan jarum suntiknya. Anakku harus menanggung rasa sakit, jauh dari ibu dan saudara-saudaranya yang banyak, mengenali muka-muka dokter dan bermacam-macam obat..
Adapun aku sendiri, juga sudah hafal berbagai rumah sakit. Karena semuanya sudah menjadi tempat tinggalku sehari-hari. Tangis, teriakan dan jeritan anakku ketika ia meminta tolong, sudah tidak berarti lagi bagiku. Ia biasa meminta tolong kepadaku karena saking sakitnya. Tetapi aku tidak memiliki daya apa-apa wahai anakku..
Semua pintu sudah diketuk, kecuali pintu Allah. Segala pintu juga sudah tertutup, kecuali pintu Allah…
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan..” (An-Naml: 62)
Pada saat itu aku mendengar ada seorang Syaikh yang sudah biasa mengobati dengan ruqyah Al-Qur’an. Sebagian rekan mengusulkan aku untuk mencobanya. Alhamdulillah, ruqyah dengan Al-Qur’an memang obat,.
Namun hawa nafsu mendebatku. Banyak yang harus dipikirkan. Pikiranku sendiri menjadi bercabang-cabang. Bagaimana aku akan meninggalkan kedokteran modern? Bisa jadi, bisa jadi?
Sebelum pergi, aku beristikharah meminta pilihan dari Allah..
Malam itu aku tidur dan dalam tidurku aku bermimpi bahwa aku berdiri di pinggir lautan. Dan air di pinggir laut itu dangkal. Pada bagian tertentu terdapat tanah yang menonjol tampak oleh mata, tidak tersentuh air laut. Tiba-tiba terlihat lubang di bawah lautan, keluar dari laut itu yang biasa disebut sebagai kepiting laut (Sea Cancer) dan pergi jauh-jauh.
Aku bangun dari tidur. Pada malam itu, jiwaku sudah menjauh dari rasa takut akan kambuhnya penyakit anakku itu. Aku mengabarkan mimpi itu kepada orang yang kupercaya…
Ia berkata: “Bergembiralah, mudah-mudahan itu kebaikan bagimu insya Allah. Tanah dalam mimpi adalah manusia. Sementara kepiting yang keluar itu adalah penyakit yang keluar darinya insya Allah.”
Aku terima kabar gembira itu. Aku pun memutuskan untuk pergi menemui ulama yang biasa membacakan ruqyah itu untuk meruqyah anakku dengan Al-Qur’an…
Di tengah penuh sesak orang-orang yang sakit, terdapat kenyamanan jiwa yang kurasakan. Kisah-kisah kesembuhan menghiasi tempat itu…
Sinar harapan itu tampak mulai melongok diriku. Awan kebajikan mulai menaungi diriku..
Selesai sudah pembacaan Al-Qur’an kepada anakku. Ia meminta kepadaku untuk mengulanginya sebanyak tiga kali setiap minggu. Ia juga meminta diriku untuk turut juga membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepadanya..
Aku memutuskan untuk berhenti berobat ke rumah sakit, karena aku tidak bisa mengajaknya keluar selama mulai menjalankan pengobatan kimiawi..
Tiga minggu pun berlalu. Pada masa itu, kondisi anakku membaik. Setiap waktu pengobatan, aku pergi dari Jeddah ke Riyadh, kemudian kembali lagi. Aku menanggung rasa lelah dan kesulitan yang besar sekali..
Tatkala selesai waktu pengobatan ruqyah yaitu selama tiga minggu. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Tetapi harus menunggu hingga ada kamar kosong..
Aku mendaftarkan nomor teleponku di rumah sakit itu, dan aku pun diberikan dispensasi untuk masuk, karena aku sudah terlambat untuk berobat. Anakku itupun dimasukkan, dan kata mereka, tidak boleh membuang-buang waktu meskipun satu menit…
Beberapa hari berlalu…
Tiba-tiba telepon berdering. “Coba anda datang. Kami ingin mengambil contoh sumsum tulang anak anda. Hendaknya ia berpuasa. Aku pun membawa anakku. Aku bingung, diiringi pula oleh rasa sakit yang dialami anakku yang masih kecil dan teriakannya… Aku pergi ke rumah sakit. Aku juga berdoa kepada Allah agar tidak kembali ke rumah sakit itu sekali lagi..
Contoh sumsum itupun diambil. Aku pun kembali ke rumah… Masalah kami sekarang ini: antara pemeriksaan dan hasilnya. Satu minggu penuh… Kami membiarkan urusan itu untuk diselesaikan: Apa yang akan terjadi? Di mana? Dan bagaimana?
Di lokasi pemeriksaan, kakiku melangkah cepat. Aku merasa bahwa ada kebaikan yang menantikanku di sana…
Aku duduk bersama dokter untuk bertanya kepadanya. Dan jawabannya sungguh menggetarkan lubuk hatiku yang paling dalam. Aku meyakinkan diriku bahwa aku dalam keadaan sadar ketika mendengar ucapannya. Membuat lemah pendengaranku dan menentramkan anggota-anggota tubuhku. Pada masa di mana sudah tidak ada lagi kesempatan bagi kegembiraan dalam hatiku, aku mencari anakku ke kanan dan ke kiri untuk menciumnya, untuk melihat kedua matanya, dan untuk mengusap air mataku…
Aku menoleh mencari tempat untuk melakukan sujud syukur kepada Allah. Siapa yang lebih berhak untuk mendapatkan selain Allah?
“Setelah mengalami kekambuhan kira-kira berbilion-bilion sel, kini tidak ada lagi bekas dari sel-sel penyakit kanker itu.”
Dokter itu melanjutkan: “Itu disebut sebagai kondisi tersembunyi. Yakni tidak tampaknya sel-sel itu ketika diperiksa. Itu harus dicermati, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Aku pun keluar…
Aku menoleh untuk mencari telepon dan mengabarkannya kepada istriku. Tetapi langkah-langkahku lebih cepat daripada pandanganku..
Aku memuji Allah atas kenikmatan Islam, kenikmatan diturunkannya Al-Qur’an. Air mata kesedihan telah mengalir di hari-hariku yang panjang.
Adapun sekarang, bukan sekedar air mata kegembiraan semata, bahkan air mata kegembiraan dan rasa syukur.
Aku mengembalikan ingatanku:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.” (Fushshilat: 53)
Aku melihat bukti ayat itu dalam diriku, dan aku hidup bersamanya dalam rumahku…
Di sini, di antara tumpukan hasil pemeriksaan medis, di antara angka-angka dan berbagai berkas pemeriksaan lainnya…
Di antara tangisan anak dan kesedihan ibunya, juga kedukaan sang ayah…
Maha Benar Allah Subhanallahu wa Ta’ala yang telah berfirman:
“Kami turunkan dalam Al-Qur’an itu penyembuh dan rahmat bagi kaum mukminin…” (Al-Isra’: 82)
Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. I, Ramadhan 1422 H /2001 M, hal. 240-255.

Selasa, 24 Juli 2012

akhirnya "ABIK"


Berawal dari pengenalanku sama yang namany “CINTA” ,awalnya sih waktu SMP,yah  taulah.. cinta-cinta monyet gitu,tp gak tau kenapa aku mananggapi hal itu serius banget,berfikir buat ngejalanin hal itu dengan serius,berangan-angan bakal seterusny jalan sama pasanganku saat itu,mungkin karna keseringan nonton film-film “LOVE STORY” gt kali yah. Dan saat-saat itu semua berjalan nggak seperti apa yang aku pengen,tapi dari situ aku jadi dapet pelajaran dan pengetahuan tentang apa itu “CINTA”
“Ceritanya diterusin yah” ini waktu aku udah menginjak masa SMA,yah emang masa-masa dimana sebagian besar orang mulai mengenal dan menjalani pahit manisny cinta,waktu itu aku bisa dibilang jadi anak yang gk terlalu menonjol atau di idolakan sama cewek-cewek di sekolah,tp sebagian besar anak-anak disekolah mengenal aku,mungkin karna aku punya nama yang mudah di ingat dan nggak pasaran,agamaku juga bukan agama mayoritas di daerah tempatku tinggal,jadi mungkin karna itu aku jadi lebih gampang di ingat sama anak-anak di sekolah.                                                                             nah sekarang nih dimana saatnya aku kenalan sama cewek,awalnya sih karna temen aku yg punya pacar di luar kota,waktu itu di saat dia lagi nelfon ceweknya itu aku iseng aja minta dikenalin sama temen cewekny dia itu,alhasil aku dikasi nomor  HP cewek trus disuruh kenalan sendiri,tp yah karna aku berasal dari keluarga yang kurang mampu waktu itu aku enggak punya HP,jadi tuh nomor aku catet d buku,pengen buru-buru balik kerumah buat minjem HP bokap trus ngubungin nomer itu deh,nah saking semangatnya nih,sampe rumah aku langsung buru-buru nyariin bokap trus minjem HPnya,pas udah pegang HP langsung deh tanpa mikir panjang aku SMS kenomer itu,tapi setelah terkirim aku tunggu-tunggu nggak ada balesan,bisa dibilang saat itu udah putus asa banget buat kenalan sama tuh cewek,yah Cuma bisa pasrah aja.                                        Udah dua hari setelah aku SMS itu cewek tanpa ada balesan SMSku itu aku niat buat hapus nomornya dari HP bokap,tapi isengku timbul,aku miscall tuh nomer,eh.. gak taunya di miscall balik sama dia,jadi yah aku SMS lagi,aku Tanya
 “ini siapa yah?” sekedar basa basi gt deh,dia bales jg akhirnya
“ini siapa dulu? Kok bisa ngubungin nomer aku?” 
“aku tama(sorry aku nggak mau cantumin nama asli disini) aku dapet nomermu dari temen”
“owh.. aku indah (bukan nama asli dia juga),ada apa yah?”
“enggak,Cuma pengen kenalan aja,boleh kan?”
“boleh aja,kamu anak mana?”
“aku bangli(daerah tempat tinggalku),kamu?”
“aku Denpasar,eh kamu kelas berapa?”
“2 SMA,oh ya,kamu udah punya pacar?”
“jauh di atasku donk,aku aja baru kelas 2 SMP,belum nih,lagi jomblo”
“(sempet kaget juga dia bilang masih SMP) owh…  kalo gitu gk apa-apa kan aku SMS km”
“ia gk apa”
nah,dari perkenalan itu aku ngerasa deket banget sama itu anak,komunikasi kita juga berlanjut terus dan semakin akrab,udah tiga hari komunikasi gak tau knapa aku tertarik sama dia,walaupun kita nggak sama2 tau secara langsung atau tatap muka,tapi aku beraniin diri buat nembak dia.nah gak diduga dia nerima aku sebagai pacarny,kebayang kan gimana senegnya waktu itu.                                                                                                                         
Udah seminggu jalan nih,akhirnya aku sama temen aku yg ngenalin ke ni cewe mutusin buat nemuin dia keluar kota,sekalian dia juga nemuin pacarnya. Kebetulan nih cewe-cewe yang bakal kita temuin tuh pemain basket,jadi kita nemuinnya di GOR,soalnya waktu itu juga pas sama jadwal latian mereka.                                                                                                        Nah pas udah nyampe,aku masih nunggu nih,soalny latiannya masih jalan,sekitar sejam nunggu akhirnya mereka kluar GOR juga,sempet kaget juga ngeliatnya,ternyata postur badannya gede banget,bongsor,yah tingginya 175cm gt,sedangkan aku kurus dan tinggi Cuma sebatas 168cm aja,kebayangkan kalo dampingan kaya gimana?                                                                          Semenjak itu aku mikir hubungan itu gak bakal aku pertahanin lama,mungkin yah dua mingguan udah putus,tapi setelah berjalan gak tau kenapa rasa sayang mulai muncul,dan itu yg buat aku pertahanin hubungan itu,sampai berjalan lima tahun,(ceritanya disi ngkat aja yah,kepanjangan kalau di buat detile :p)
Nah selama lima tahun itu banyak hal yg kami alamin,dari yang seneng banget sampai yang nyakitin,dan ujung-ujungnya hubungan kami ngegantung,banyak faktor yang buat kaya gitu,dari yang ortunya dia gk ngerestuin,dari sifat-sifatny dia yang aku anggap nggak bisa buat aku nyaman,dan terakhir kita berhubungan disaat dia tamat SMA,dia mutusin buat nerusin study di Jogja,dari situ aku semakin putus asa buat tetep berusa pertahanin dia,apalagi sempet ada kejadian yang ngagetin aku banget,dalam keadaan ngegatung kayak gitu dia udah deket sama cowok lain,sempet debat ngebahas tentang orang ketiga itu tapi ujung-ujungnya aku juga yang ngalah buat nerima alasan dan penjelasan dari dia kalau itu cowo Cuma sekedar temen dia aja.                                                                                                                                                                                   Setelah lama dalam keadaan ngambang kayak gitu aku baru tau kalau dia udah bersetatus “pacaran” sama cowok itu,gak tau harus kayak gimana waktu itu,yang aku rasain Cuma sakit dan putus asa.aku mutusin buat berusaha ngerelain dia sama cowok lain dan bener-bener belajar ngelupin dia.
                      Waktu terus berjalan,dua bulan setelah bener-bener kehilangan dia,tepatnya tanggal 27juni2011,aku ngerasa nggak ada gairah buat deket ataupun nyari penggantinya.                                                                                                                                                                                        Tapi suatu hari,disaat aku lagi iseng-iseng mainin salah satu jejaring sosial (facebook),tiba-tiba ada seorang wanita,yang bisa aku bilang saat itu dia bagaikan sosok malaikat penolong yang tiba-tiba hadir buat aku,awalnya dia mengirimkan permintaan pertemanan,yang biasanya aku males banget nih buat konfirmasi orang yang nggak aku kenal,tapi saat itu aku nggak mikir-mikir lagi,jadi langsung gitu aja aku konfirmasi permintaannya. Nah,gak tau kebetulan atau gimana,dia juga lagi “on line”,nggak ada  sedikitpun pikiran buat Tanya-tanya atau memulai percakapan sama dia,tapi tiba-tiba ada kiriman di dinding  facebook,setelah aku buaka ternyata dia,wanita yang baru saja aku konfirmasi pertemanannya di facebook,namanya “maya”,saat itu juga salah satu temanku yang memang dari tadinya udah merhatiin aku tiba-tiba ngomong,”coba liat siapa tuh,keliatannya cantik” yah akhirnya karna dia minta aku turutin buat ngeliatin profile tuh cewek lebih detile,semakin diperhatiin tu foto cewe keliatan menarik,aku bilang juga sama temenku,
 “nih dia juga lagi on line”
“mana? Ya di chat donk”
Awalnya aku nolak banget anjuran dari temenku itu,karna emank lagi males banget buat ngobrol nggak jelas,apalagi sama orang yang belum tau pasti siapa dia,tapi temenku kekeh banget nyuruh aku buat mulai ngobrol sama itu cewe,yah dengan rasa males akhirnya aku chat juga itu cewe,

“siapa ?”­­

“maya dsini ….
slm knal ya ?spa dsna ?”

“tama...
sip,lam knal jg... :)­­”

“yok yokk ...
u'r wlcome boy
:)”

“nak mane?­­”

“nak dnpasarrr ...
u ?”

“asal q?­­”

“yoaaa ?”

“bangli ,,
tp bukan asli bali..
km?­­”

“bangli ?
seriuss tu ?
kbtulan q study dsna jg ..
q seg lahir d srbya om ..
:)
men klok gag asli bali asli mna ?”

“masa? study apa?
dih om,tua ama gw...
gk tau asli mane,babe srabaya trs meme bali... aq lahir dsini,,hiiihi...­­”
“kuliahh mksd na ..
heheh ..
iyaa deh mavv kak ..
hooo
:D
muslimm ya ?
:)”

“owh kul...
dmn?
ia gpp...
ia lah muslim donk... mank km?­­”
“we same boy ..
q jg muslimm kok ..”

“:)
q kul d kim[pus om q d jln LC tu lo
twu ?”

“lc subak aya??
sblah mana yak? aq gk tau ada kmpus dsana...­­
asik donk sama muslim...­­”

“ia yaa ...
asikk jg lok sma2 mslim ..
hehehhe
nyambungg dkitt ...
:)
ada kok carik 2 aj ..
jdi satu sma SMK perawat ...
u stay dmna skrng ?”

“bisa jama'ah bareng...
hee...
mana yah,aq gk tau y,pdhal tiap malem aq d sana,,
nih aq d bangli... lg d lc jg,tp lc uma bukal...
km?­­”

“oww lg d banglii toh ..
d STKIP suar bangli tu lo ...
mask gag twu ..
iy yaaa ..
ntr lg kan puasa ya ..
heheh”

“yup... mank km dmn?
aq gk tau ,ya ntar lah aq cari tau... hee...
ia,,mdah2an full...
napa off baru?­­”

“q lg d dnpasar ne ..
iaa ne brusan jaringan na trble ..
huftt..
ngmng 2 nma u spa ?”

owh...
mank lg lbur?
kan udah aq bilang td... tama...­­”

“ia ne lg libur ..
o yayayay ..
mavvb om lupa q ..
hehehe”
maavb kan driku teman ..heheh”

“wajar deh...
kapan kbangli?­­”

“hehe ...
hari kamiss aya sna ..
alna kmis jam 3 dta masuk kuliah om ..”

“sip deh...
eh,,umur mu brapa sie?­­”

“klok maslh umur ..
klok msalna aya thun 91 lahir ..
kira2 skrng brapa ya ?”

“emzz....20an gt deh...
gk jauh beda,jd jangan manggil om yak...­­
hehe...­­”

“emm blum 20 ..
masih berjaln mnuju 20 hehehe..
heheh
mang umurna tama brapa ?”

“aq 89 kira2 brapa yak?­­”

“emmm ...
brpaaa yaa ?????
22 ??
bner gak ?”

“yah dsember ni pas dah 22...
d bangli tggal dmn?­­”

wuaahh kbtulan jg aya desember 20 ..
heee
emm ...
d tembuku kak ..
d rumh na om na aya ..
maen2 krumh kak ..!!
klok maw !
:)”

“aq 30,beda 10 yak...
wah dket donk...
kk sdmbunut,sring lewat donk yah...
ia kapan2... adex ajj maen krumah...­­”

“mksd na aya 20 tu pas umurna aya kak ..
lok aya lahir na seg pas hri natal”
aya maen krumh ?ahhhhh aukkk !
:(“

“owh...
napa gk mau? biasa ajj x...
dah lama d bangli?­­”

“maluu ya ..
msk ya bru knal maen krumh lgsg ..
yeee ...
blum seh ..
bru sethun blakangan ni ..
gag ad rencna mudik k srbya ne ..”

“y gpp koq,namany jg maen,td ajj adex nyuru krumah,sama ajj kan...
lumayan lama...
gk ada dex,gk tau ni ntar kluarga bilang mau k sumatra...­­”

“owww gtuww toh ..
Yayayya”

“apa yyy...­­
eh ia,kk mau kluar g bntar,,lok mau lnjut d sms ajj...­­

“yaaa jgn lupa oleh2 na ..
Hehehhee”

“sip dah,lok jd tp yak,hehe...”

“jiaahhh !!!!!
baekk lahhh !
:(]”

“wkwkwk... nape?
gmn tuh?
mw lnjut sms?”

“gag npe bang !
:(
yaa inget aj oleh2 bwt aya ..
okokok...
lok sms mang kgk ad yg ngamukk ntr abang na ??”

“wkwkwk...
ada,paling jg dagang pulsany,haha...­­”

“yeeee ...
orng aya nanyak na seriusss kok ..
uuuu !!!
dasarr jlekk ! :p”

“wkwkwk... gk liat lajang gt??
paling jg aya ada yg marah...
yee... biarin dah jlek,yg pnting beriman,haha...­­”

“yeee enk aj ..
men gag dliat jg dsna lajang pa kagak na ???????
aaaaa !!!
:p
ngmng2 beriman ..aya jg beriman kok ..
hehehe”

“liat sey,,mank mau d ganti biar gak lajang lg tu info??
hihi....
alhamdulillah deh...
ksmpean...­­”

“klokk ada ..
masihh blum mnemukan alna kak ..
masih nyarik yg biar sma2 nyambung ..
hohoho”

“mksd na alhmdllh ksmpean tu ap ?????
enak ajj ..
uuuuuuuu ..
:p”

“amin dah,,ntar ajj ada koq...
yah jalanin ajj lah dulu apa adany...
ada pkokny,,napa?? yee... enak ajj napa nih...­­”

“ya jalanin aj dluw ..
kyk air ...
aq suka itu !
hahaha”

“haha... bagus,prinsip yg asik...”
eh dex,liat donk tuh,,cnfrim ajj lok bisa...­­”

“apaan ?????
yg dknfrimm ?
kliatan aj enggak ...”

“liat ajj pmbritahuan d permintaan prtemanan tu...­­”

“??????????
hahahaahh..
yakinn tu ?”

“hahah
ah cmfrim ajj...”

“aq yakin kalo bisa d yakinin...
yakin sey...­­”

“hahahahha ...
dasarr kakak jelekk ...
:p”

“hihi...
biarin deh jlek gini...
trima2 ajj...
ywdah cnfrim gih...­­”

“udahh d knfrimm kakakk jelekkk ..
;p”

“sip...
tp srius gk tuh? kk mau negesin ajj...­­”

“iyaaaa seriussss
jelekk :p”

“xixixi...
serius pacaranny jg?­­”

“hahaha ..
secepat itukah ?”

“y kk kan nanya...
kk bisa2 ajj ngjalaninny,cuma gk mau kalo asal n maen2,wlwpun trbilang cpet...­­”

“iya iyaaa kk bawelll ...
:p”

“bukan bawel odong...
jd jlasny???­­”

“jlsnya ya udah jelas kan ?”

“jd kita jadian nih?­­”

“:)
“ia...
:*­­”

“heheee ..
iyaaa dehh ...”

“ahh pake deh...
:(­­“

“yayaaaa ...
jdi ..
:p”

“dasarrr!
Uuu”

“hihi...
jd malu...
yeee... gini2 punya sapa?? :p­­”

“hahahaha ...
punyaaa spa ya ???
emmm ???
hahahahha

“sapa yaaaaa....
pengen tau...
ada yg ngaku kagak yah...­­”

“:D­­
ada ada ...
heheh\”
(ini chating yang sebenarnya,aku copy paste langsung dari documentasi di facebook :) )

Gak nyangka malem itu juga kita langsung deket,gak tanggung-tanggung langsung jadian juga,maka dari itu kanapa dia aku ibaratkan sebagai malaikat penolongku,karna memang saat itu perasaanku yg lagi rapuh dan udah nggak ada gairah lagi ngerasa di anggkat dan diberi warna kembali.
keesokan harinya kami bertemu dan bertatap muka secara langsung,kami benar-benar merasa nyaman dan cocok satu sama lain,semangatpun mulai timbul kembali di keseharianku,kamipun menjalani hubungan itu dengan baik.
         
          Tapi ada suatu kajadian yg bener-bener buat aku nggak percaya disaat dua bulan hubungan kami berjalan,ternyata dia masih menjalani hubungannya dengan laki-laki yg memang sudah lama berpacaran dengannya,aku ngerasa bener-bener putus asa banget waktu itu,aku berfikir nggak mau lagi buat kenal sama dia lagi.tapi entah kenapa dia tetap berusaha meminta maaf dan meyakinkanku kalau memang yang dia sayang dan cintai itu adalah aku,dia memberikan segala penjelasan yg sebenarnya sangat sulit untuk aku terima.
Seiring dengan penjelasan-penjelasan dan usahanya untuk meminta maaf dan meyakinkanku lagi,akupun mengalah dan memaafkannya atas kejadian itu. Kamipun kembali menjalani hubungan itu mulai dari awal lagi.

          Hari demi haripun berlalu,perjalanan hubungan kami semakin jauh mengalami peningkatan,perkenalan kepada orang tuapun sudah kami jalani,hingga disaat umur hubungan kami menginjak satu tahun,akhirnya orang tuaku memutuskan untuk menikahkan kami berdua.

          Denpasar,26 April 2012 pihak keluargaku mendatangi pihak keluarganya untuk melamar ,berdiskusi tentang hari baik untuk menjalani prosesi pernikahan kami.
Semua sudah diputuskan saat itu juga,dan akhirnya keputusanpun sudah di dapat oleh kedua pihak keluarga.

          Bangli,07 Mei 2012,acara resepsipun dilangsungkan.
Dan tetep melekat sampai kapanpun,panggilan sayang yang dia buat untuk aku,”ABIK”.


Sampai sekarang aku ngerasa bahagia ngejalanin rumah tangga ini sama dia,yah.. dari sekian lama perjalanan cinta yg bisa dibilang rada-rada aneh ini,aku bener-bener ngerasa dapet hikmah,bener-bener dapet pembelajaran untuk menjalani kehidupan cintaku kedepan…

Suatu kesimpulan yang aku dapet yaitu : orang yang kita tangisi dan beratkan kepergiannya belum tentu orang yang akan membahagiakan kita,belum tentu orang yang tulus mencintai kita,belum tentu dia yg terbaik untuk kita,akan datang lagi orang baru yang memang lebih baik,yang akan memberi kehidupan baru untuk kita,memberi cinta dan kebahagiaan baru untuk kita. Jadi,untuk apa kita menangisi orang yang memang bukan jodoh kita!!

Buat para pembaca,maaf kalau memang tulisanku ini kurang menarik untuk dibaca,aku menulis ini hanya untuk sekedar mencurahkan apa yang sudah aku alami,dan karna memang aku nggak ada  latar belakang sebagai penulis J
Thank’s for anything…